entah bagaimana harus aku menulis kisah ini, bagian dari cerita cinta yang tiba-tiba menjadi rumit. ceritanya, aku mengikat dia terlalu kencang pada ikatan kami. aku selalu mengntrol dia, menanyakan dia sedang di mana, menanyakan dengan siapa, apakah sudah makan, menanyakan apa saja yang dia alami hari ini dan sebagainya. awalnya aku pikir kebiasaan aku itu akan membuat dia merasa bahwa aku sangat peduli dengannya, merasa aku sangat menyayanginya.
dan aku SALAH
apa yang aku lakukan itu ternyata membuat dia merasa sesak, lelah, dan menyerah. aku terpukul saat ia mengatakan itu. betapa sebenarnya aku kemarin berusaha menjadi yang terbaik untuknya, berusaha membahagiakannya. aku merasa bersalah, merasa berdosa karena sama sekali tidak mampu membuat ia bahagia.
akhirnya ia meminta jeda untuk berpikir. dan aku memohon agar ia mau beri aku kesempatan. berdoa ketika di masa jeda itu ia mau membuka hati dan beri aku kesempatan. hampir aku mendapatkan harapan itu, karena ketika masa jeda ia tetap menghubungi aku, mengkhawatirkan aku.
ketika saatnya tiba, aku terkejut saat ia datang dan begitu marah.
ternyata sebelum ia datang padaku, seseorang yang dekat dengannya bercerita bahwa aku pernah menjelek-jelekan ia di depan kekasih baru dari mantan pacarku (kalian bingung, aku lebih bingung). terkejut, bingung, marah semua menjadi satu saat itu. entah apa yang ia dan mereka pikirkan. dalam pikiranku aku ridak habis pikir kenapa mereka melakukan ini. padahal aku tidak mengenal wanita baru dalam kehidupan mantanku itu.
memang sebelumnya aku mendapatkan cerita dari kakak sang mantan bahwa wanita itu mengatakan sesuatu tentangku pada kekasihnya, saat itu aku tidak mau ambil pusing karna aku sama sekali tidak peduli anggapan mantanku tentang diriku. tapi menjadi lain ceritanya ketika ia menyangkutpautkan mereka (kekasihku dan orang terdekatnya).
aku berusaha bertanya pada orang terdekat kekasihku, tapi jawabannya tidak memuaskan. ku telpon ia tidak mau mengangkatnya. aku merasa sangat bersalah. lalu kucoba hubungi wanita itu, dan ia mengatakan tidak tahu apa-apa. aku semakin bingung.
ku coba untuk menguhubungi orang terdekat kekasihku, maksudku aku ingin mendengar langsung dari kedua belah pihak. tapi ia tetap tidak mau.
bingung
kesal
marah
aku benar-benar menjadi bodoh didepan mereka.
hingga kini aku sendiri bingung siapa yang berbohong, siapa yang menjadi korban. namun kini aku yang tadinya dekat dengan orang terdekat kekasihku itu memilih menjauh. karna ku pikir ia memang berharap seperti itu.
meski sempat merasa terpuruk karena aku tidak bisa membuktikan apapun kini aku hanya bisa bilang terserah. terserah dengan semua pikiran kalian tentang saya, terserah apapun yang ingin kalian katakan tentang saya, semua terserah
tapi maaf, kalian tidak mampu pisahkan aku dan dia. karena tanpa kalian tahu aku dan dia punya tanggungjawab atas hubungan ini. aku dan dia tidak bisa datang dan pergi begitu saja satu sama lain.
tentang kemarahanku, sudah meluap begitu saja, biar saja nanti waktu yang beritahu ku siapa yang ada di balik semua ini.